Selasa, 24 Agustus 2021

Habis Makan Terbitlah Ee

 



Untuk Rot, diriku sendiri, dan semua orang yang yang kalau habis makan langsung ee. Bagi yang ga tau, ee adalah bahasa indonesia tidak baku dari buang air besar atau berak.


1. Siapa?

1

Duaaaar! Aku ingin bercerita soal diriku sendiri, tapi kupikir itu akan menjadi canggung dan aneh jika diceritakan dari sudut pandangku. Aku berinisiatif untuk menyuruh kawanku untuk menceritakan dari sudut pandang mereka, tapi kurasa mereka tidak mengetahui diriku secara detail. 

Contohnya seperti, mereka tidak tahu jika aku sedang BAB ngapain, atau aku masuk kamar mandi menggunakan kaki kiri atau kanan dulu, ribet juga jika harus memberi tau hal-hal seperti itu. Karena hal itu, mau tidak mau kuceritakan ini sendiri, dan aku berusaha untuk menghindari sesuatu yang bersifat narsistik. Tenang saja, yang ku tau aku bukan orang seperti itu. Tapi, gatau juga deh, kamu nilai sendiri. Kadang kita hanya gak sadar jika sedang narsis, bahkan kadang menganggap orang yang memajang wajah selfie-nya di platform social media lebih narsis dari Vincent van Gogh. Maksudku, Vincent van Gogh melukis lebih dari 30 potret dirinya sendiri dalam waktu 3 tahun.

2

Tapi aku rasa harus bilang ini dari awal, bahwa tidak ada yang menarik dari cerita ini, oke? Tapi ada yang menarik, apa ya? Oh ini! Alien!! Lalu segala sesuatu tentang bagaimana bisa terdapat 170 miliar galaksi dalam alam semesta dan hanya bumi yang terdapat kehidupan? Aku juga tidak yakin. 

Banyak hal-hal yang berisikan imajinasi yang menyenangkan lainnya dikepalaku. Tapi hal-hal itu akan selalu jadi serius dan tegang jika dikalkulasikan, bahkan dalam semua hal, dan menjadi sedikit tidak menyenangkan. Aku tidak bilang bahwa kita harus selalu bercanda dan santai, tapi aku lebih memilih untuk begitu. Ya, setidaknya itu menurutku, tidak menuntutmu untuk setuju. 

Lalu kamu tau ga? Aku heran kenapa aku meneruskan tulisan ini, tapi aku ingin, jadi aku lanjutkan saja, dan semoga kamu suka. Mungkin kata-kata diatas bisa sedikit menggambarkan diriku, yang sisanya akan menyusul.

 2. Oh, kamu Selai!

3

Aku tidak akan memberi tahu nama asliku, anggap saja namaku Selai, kepanjangannya Selai Kacang. Aku terlihat seperti kebanyakan manusia dengan memiliki satu kepala, kadang-kadang berkumis, kadang hilang jika disuruh cukur oleh ibuku. 

Aku terlahir sebagai anak yang ceroboh, dan sedikit nekat. Aku tidak teralu pintar dalam hal eksak, lebih gemar menggunakan otakku untuk berimajinasi, karena lebih menyenangkan begitu. Dulu ditanya oleh Tuhanku, untuk memilih pintar tapi membosankan atau bodoh tapi menyenangkan, ku pilih yang kedua. Kelebihanku itu tergantung, tergantung aku berada dimana. Yaitu semisal jika aku berada di Republik Kongo, ya jelas kelebihanku adalah bisa berbahsa Indonesia dengan fasih sesuai dengan makhrajnya. Kenapa? Iya lah! Kan disana gak ada yang bisa berbahasa Indonesia se fasih aku, itu bisa dibilang kelebihan. Lalu aku mahir merubah unsur oksigen menjadi karbondioksida. Kelabihan lain tidak akan kucantumkan, karena malu. 

4

Aku tidak lahir begitu saja seperti Adam, atau ada karena ketidaksengajaan alam, bukan. Aku dilahirkan oleh seorang ibu (tentu saja), dengan kondisi premature. Aku tidak mau berlama-lama di dalam perut ibuku pada saat itu karena tidak sabar untuk melihat dunia, lagipula didalam sana sempit dan gelap, dan tidak ada tukang bakso. Maksudku, ayolah siapa yang tahan berada di dalam sana selama 9 bulan? 8 bulan itu cukup bagiku.

Aku juga merupakan anak tunggal yang sebenarnya memiliki adik, tapi dia tidak terlalu beruntung karena belum sempat mampir ke bumi, untuk sekedar tau rasanya makan Lontong Kari dan merasakan daging Kudanil, atau malah dia yang beruntung ya? Ah gak tau juga! Yang jelas dia berkelamin perempuan, katanya kembar, aku tidak yakin karena setauku tidak ada gen kembar dalam silsilah keluargaku, nanti ku tanyakan lagi pada ibuku, itu juga kalau aku ingat dan masih mau.

3. Mamaaaaa uuu (Any way the wind blows)

5

Ibuku bernama Selai Pepaya (anggap saja begitu), yang dimana nama belakangnya diambil dari nama Kakekku. Aku memanggil dia dengan sebutan mama, karena kalau ku panggil papa nanti suaminya bingung. Ibuku adalah orang yang cukup keras, tegas, berani, yang sebenarnya cukup aneh ketika seorang perempuan memiliki sifat ini. Merupakan pekerja keras, dan sangat menyukai pekerjaannya. Lalu apa ya? Lalu dia manusia, berkaki dua, menyukai seafood kecuali ikan paus bakar dan lumba-lumba saus padang. Dia juga gemar traveling, dan gemar memarahi anaknya.

Dia memiliki suami yang bernama Selai Tempe, yang secara kebetulan adalah ayahku juga. Aku mewarisi sifat yang sama dengan ayahku, yaitu sama-sama tidak mencintai hewan, kami masih mencitai manusia, itu kenapa aku dan ayahku belum pernah berpacaran dengan seekor kambing. 

6

Kami dirumah, sama-sama membangun gerakan anti takut ibu, yang diprakarsai dan dibentuk oleh ayahku. Ayahku menjabat sebagai ketua dan aku wakil, belum memiliki anggota resmi karena belum ada anak baru. Meski begitu, kami yakin gerakan ini akan bertahan lama, walau berani melawan hanya ketika berdua,  saat sendiri-sendiri takut juga. Mungkin gerakan ini selalu gagal karena visi-misinya kurang jelas, wallahualam.  

Ohya fokus, maaf, aku harus masih meperkenalkan ayahku. Ayahku sangat baik, penyabar, dan suka nguap kalau ngantuk. Udah ya segitu saja perkenalannya? 

4. Apa ya?

7

Lalu selanjutnya kita mulai dari siang ini. Siang ini aku sedang tidak makan karena disuruh oleh ibuku. Aku baru boleh makan saat adzan maghrib. Satu rumah disuruh begitu. Tapi aku senang, karena ibuku jadi jarang marah-marah dan kami (aku dan ayahku) tidak perlu repot untuk menjalakan gerakan kami, itu artinya kami sedang cuti serentak! Ayahku merayakannya dengan bercocok tanam, sedang aku dengan menyiram tanamannya. Kurasa tanaman juga harus ikut senang.

Sekarang juga aku sedang berkuliah, namun daring, dan itu berbahaya. Ini selalu terasa optional, dimana sebenarnya masuk kuliah itu wajib. Aku mengambil jurusan Arsitektur, dan menyukainya, ya setidaknya sampai semester satu beres, karena setelah itu aku harus pulang ke Indonesia karena ada pandemi apa ini? Oh Corona! (Omong-omong aku berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Malaysia) 

8

Di Indonesia aku melanjutkan study semester dua Arsitek ku. Rencana awalnya tidak begini karena prediksi hanya dipulangkan dua minggu ke negara asal dan kembali ke Malaysia. Rencana dua minggu berubah menjadi satu tahun setengah. pandemi ini menjadi sangat serius dan aku tidak menyukainya, setidaknya aku merasa begitu sekarang. 

Pada semester dua lalu, aku berniat untuk mengambil cuti, karena kupikir sedikit tidak memungkinkan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah arsitektur dalam kondisi pandemi begini. Banyak kendala yang kualami, seperti membeli bahan-bahan arsitek yang sulit didapat, toko-toko yang ku tau khusus menjual bahan arsitektur harus tutup karena pandemi. Bahan yang kumaksud adalah PVC board, atau kayu balsa, dan hal-hal lainnya. Mungkin kalian pernah melihat arsitek yang sedang presentasi, dan terdapat semacam apa ya? Miniatur bangunan, nah bahan untuk membuat miniatur bangunan atau model itu yang kumaksud.  

9

Itu adalah cerita bagaimana aku bisa mendapat nilai F pada beberapa mata pelajaran (karena terdapat pelajaran yang terkait satu sama lain) yang membuatku harus mengejar nilai di semester tiga, dan itu sedikit tidak mungkin karena nilai yang ku kejar cukup tinggi, ditambah lagi pandemi, lagi-lagi. 

Aku nekat memutuskan untuk tetap melanjutkan study semester tigaku di arsitektur dan ternyata aku gagal. Ada hal-hal yang ku sesali, itu pasti, tapi ku ambil sebagai pelajaran hidup. Ibuku kecawa? Pasti, begitu juga ayahku. Karena alasanku berakhir hanya sebagai alasan bukan?  Alasanku tidak bisa membuat aku tetap berada di jurusan arsitek, itu tidak merubah apapun.

10

Selanjutnya adalah, aku masih diberi kesempatan oleh Universitasku untuk melanjutkan kuliah disana, namun harus pindah jurusan. Itu karena agensi ku mengajukan banding ke sana. Mendengar hal ini, tentu saja aku sangat senang! Kesempatan kedua itu kurasa tidak akan datang sesering mbak-mbak Starbucks yang mengucapkan "selamat datang di Starbucks" setiap kali terdapat pelanggan baru datang.

kesempatan berkuliah di Malaysia ku ambil, dengan mengambil jurusan komunkasi, iya, jauh ya? Sebenarnya jurusan komunikasi adalah jurusan yang ibuku ingin saat aku baru pertama kali masuk kuliah, tapi aku keras dan tetap mengikuti kata hatiku untuk mengambil arsitek saat itu.

11

 Untuk semua rasa bersalah yang ada dalam diriku karena tidak bisa bertanggung jawab dengan pilihanku, aku meng-iyakan keinginan ibuku kali ini. Karena kupikir, kerja itu bisa apa saja, tidak sesuai jurusan bahakan mungkin saja bisa sangat jauh dari pendidikan yang diambil saat kuliah. Aku pikir aku akan menjadi Astronaut. Tapi gatau juga, aneh ya? Sama aku juga merasa aneh dengan diriku. Atau menjadi biarawati. Ah tapi tidak mungkin, aku laki-laki, dan juga tidak menganut agama Kristen. Yasudahlah.

Sekarang, aku sedang menunggu masuk kuliah di bulan Semptember. Waktu luang ini ku gunakan sembari magang di perusahaan yang ibuku dan kawannya bangun. Perusahaan jasa pembasmi hama tepatnya. Perushaan yang tidak besar, dan masih hidup dari lisan ke lisan. perusahaan ini menampung orang-orang yang mau dan butuh bekerja, tanpa melihat umur, dan tidak mesti lulusan kuliah, karena disini lulusan SDpun ada. Kurasa dia memiliki alasan sendiri. Disini menyenangkan, karena tidak terlalu serius, dan kamu tau? Aku sekarang sedang menulis ini saat kerja di sana. 

12

Sedikit cerita tentang kawan ibuku ini. Ibuku dan kawannya, (anggap saja namanya Kornet-lis de Houtman, dipanggil Tante Lis) adalah kawan satu kost-an saat ibuku kuliah disalah satu universitas di Bandung. Cerita mereka bisa kenal adalah ketika ibuku, yang waktu itu mengendarai motor vespa jadul, tidak sengaja menabrak kencang pintu kamar Tante Lis hingga terbuka paksa. 

Ibuku dengan perasaan tidak enak namun pada saat yang sama juga menahan tawa, bertanya kepada Tante Lis, "Mmm, Gapapa?" 

"Gapapa." Dengan perasaan bingung dan masih kaget melihat motor vespa loncat berada dikamarnya tanpa permisi

Ibuku yang berekspektasi bahwa Tante Lis akan marah, menjadi bingung ketika yang Tante Lis lakukan hanya diam, dan semenjak kejadian itu mereka menjadi dekat dan akrab. Cerita ini memang terdengar seperti dibuat-buat, tapi percayalah jika ditanya siapa manusia paling jujur yang pernah kutemui, akan ku jawab dengan mudah, yaitu ibuku.

 Ibuku menganggap Tante Lis sebagai keluarga, dan begitu juga sebaliknya. Dimana ada ibuku, disana ada Tante Lis, seperti dimana ada Finn pasti ada Jake, ada Gumball pasti ada darwin, atau ada Petantang pasti ada Petenteng. Sampai akhirnya ibuku melahirkan anak pertama, Selai Kacang, dan setahun kemudian Tante Lis melahirkan anak perempuan yang ku kenal dan dianggap sebagai saudaraku, bernama Caramel Macchiato, dipanggil Cia. Sama halnya ibuku dan Tante Lis, Aku dan Cia menjadi sangat dekat dan akrab. Katanya kami sudah ngobrol bahkan dari kami belum bisa berbicara. Disekolahkan di SD dan SMP yang sama. Tau dengan pasti sifat masing-masing. 

Pendapatku soal Cia, dia adalah anak yang pintar, gemar jalan menggunakan 2 kaki dan gemar memberi makan kucingnya. Iyain aja. 

5. Canis Canem Edit

13

Oke, butuh tiga bulan sampai akhirnya aku ingat dan mau melanjutkan tulisanku. Lanjut ya. Aku akan buka pembahasanku dengan sebuah kisah petualangan dari Selai Kacang biasa, yang berusaha mencari sehelai Roti yang menyenangkan dan cantik. 

Dari luar Roti ini tidak perlu diragukan, banyak yang mau. Rambutnya terkadang gondrong, kadang juga hanya sepanjang leher, keduanya cantik. Rambutnya hitam lurus, lembut jika kau sentuh, tapi jangan berani-berani menyentuh tanpa seizinnya, karena akan ku tampar sampai bulan jika kamu berani. Gemar menggunakan baju serba hitam, dan sangat cocok dengan itu. Tidak perlu bersolek untuk terlihat menarik, dan memang dia begitu.

 Roti ini belum kadaluarsa, masih 20 tahun, setidaknya masih 80 tahun sebelum masa kadaluarsanya. Ku yakin jika kamu lihat dia, kamu akan mau, meski kamu adalah perempuan. Tapi lebih bagus kamu gak usah lihat, karena nanti sainganku makin banyak. Dari dalam dia juga sosok yang keren. Dia gemar makan menggunakan tangan kanan, tidak pernah lupa menggunakan celana saat keluar rumah, mengaku tidak pernah melihat tupai memasak ubi, memiliki suara yang merdu. Dia merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. 

14

Dia memiliki lactose intolerance. Lucu sebenarnya, karena biasanya pasangan roti adalah susu. Jadi jika kamu adalah seorang susu, kamu tidak bisa memilikinya, maaf. Rot orang yang asik, tidak bisa ku sanggah bahwa setiap kali dia ketawa, itu selalu membuatku senang. Aku juga adalah orang yang tidak akan pernah bosan untuk mendengarnya berbicara apapun, karena dia juga selalu membiarkan aku bicara sebebas mungkin, kesana kemari, tanpa pernah bilang "Diaaam!" atau "Berisikkk!" seperti yang dilakukan teman kelas perempuanku saat SMA. Dia juga tidak terlalu serius, dan aku sangat suka. Bahwa jika kebanyakan wanita cantik biasanya akan menjaga image-nya, Rot tidak begitu, dia sebagaimana dia, tidak ada yang ditutupi, menyengangkan! 

Selanjutnya kamu yang nilai sendiri karena jika dia membaca ini kawatir akan tau kalau aku sedang membicarakannya. Ohya, anggap saja nama perempuan ini Roti Gandum, dipanggil Rot.

 Petualanganku untuk mendapatkan Rot itu tidak sendiri, aku ditemani dan dibantu oleh sahabatku. Dia tinggal didalam kepalaku. Bentuk rupanya mirip denganku, sifatnya juga. Aku sedikit kesal dengannya karena terkadang dia terlalu vokal dan berisik, kadang juga suka berpikiran kotor, atau suka tiba-tiba mengatakan sumpah yang seharusnya tidak dia katakan. 

15

Aku terkadang sulit untuk mengendalikannya. Film kesukaannya adalah The Truman Show, yang juga mempengaruhi pola berpikir dan perilakunya. Dia memiliki pemikiran bahwa dunia ini adalah sebuah panggung, masing-masing manusia adalah pemeran utama untuk dirinya sendiri, dan ya, tentu awal, tengah dan akhir dari cerita ini sudah dituliskan oleh sutradara yang Maha, kita hanya mengikuti.

Hal-hal tersebut yang membuat dia menjadi tidak peduli dengan apa yang orang lain lakukan, bahkan jika ingin kayang ditengah jalanpun dia memilih untuk tidak akan peduli.

16

Tapi dia juga tidak menyalahkan orang yang ingin tersinggung dan peduli akan sesuatu yang tidak merugikan mereka secara langsung, terserah aja deh, hanya saja dia tidak memilih jalan itu. Hal ini yang membuat hidup ringan, tidak perlu repot-repot mengurusi dan membenci orang lain. Singkatnya dia tidak akan peduli terhadap apapun yang tidak berpengaruh langsung kepadanya, santai saja, agar menyenangkan. Dia rasa hidup ini terlalu singkat untuk saling membenci. 

Lalu selebihnya, sifatnya terbentuk karena lingkungan, dan orang-orang yang dia suka. Dia sangat menyukai Nirvana (band), Kurt Cobain (manusia), Bob Dylan (manusia), Lennon (suami Yoko Ono), Yoko Ono (istri Lennon), Jim Carrey (manusia), Queen (band) dan Kakeknya (sudah tua). Kurasa begitu.

17

Oke, cerita dimulai. Saat itu Kamis siang, dimana aku dan sahabatku baru bangun dari tidur dan seharusnya kerja. Kami rajin untuk bangun siang. Sahabatku menyarankan untuk minum air putih dulu, lalu sehabis itu merokok, dan aku nurut. Saat sedang merokok dia berkata banyak padaku. Perihal masa depan, kuliah, dan putus kemarin. Siang itu terhitung 3 bulan setelah aku putus dengan pacarku Ikan Sabu-Sabu (Sebut saja begitu), atau lebih, maaf tapi aku benar-benar lupa.

“Kamu mau jadi apa? kuliah ga becus. Usaha? harus usaha, cari kerja, atau bisnis. Mulai dari mana? mulai aja dulu, gausah banyak timbang-timbang, kalau gagal ya gagal, mulai lagi aja, malah aneh jika kamu langsung sukses. Putus? enak? engga kan, capek? pasti, gaada yang senang saat dicurangi berulang kali. Sekarang apa? fokus dengan dirimu sendiri, udah aja deh, manusia mah gitu, makanya jangan kasih hatimu sama mereka, mudah kecewa nantinya. Hidup sama anjing akan mengurangi rasa kecewamu. Anjing punya sesuatu yang menusia gak punya, iya, anjing setia.

18

Awalnya kupikir kata-katanya terlalu berisik dan membuatku cemas, maksudku aku baru bangun, bisa diam dulu? setidaknya tunggu sampai nyawaku sepenuhnya sudah terkumpul. 

Tapi setelah menenangkan diri, aku mencoba mencerna kata-katanya tadi, dan ada benarnya juga. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus mulai, dan hidup dengan anjing bukan ide yang buruk. Jangan salah paham, maksudnya disini aku disarankan untuk memiliki anjing, bukan untuk menikahinya. Lalu sejak itu aku pikir manusia bukan untukku, bukan untuk menjadi teman hidup setidaknya. Semenjak percakapan itu terjadi, aku sedikit merasa bahwa anjing lebih baik dari manusia. Anjing setia, tidak pernah berbohong, tidak pernah ngomongin tetangga, tidak pernah darmaji di warung (Darmaji adalah dahar lima ngaku hiji, yang dalam bahasa indonesia, makan lima ngakunya satu).

Semenjak itu juga, jika ada yang memanggilku anjing, tidak ku ambil pusing. Aku menganggapnya sebagai pujian, karena ya itu tadi, kurasa terkadang anjing lebih baik dari manusia. Jadi kalau ada yang menghardik dengan kata "Anjiing!!" kepadaku, aku tidak akan marah, dan aku akan balik bilang "Manusia!" kepadanya. 

19

Oke. 

Ku lanjut dengan mencuci muka, setelah itu menggosok gigi, sambil melihat social mediaku. Tak lama kulihat dm masuk. Tertulis dari Rot, dan aku senang.

"Cutieeee."

"Iyakaann?! Nalu." (Nalu adalah almarhum/almarhumah kucingku, yang sampe sekarang aku masih belum tau dia jantan atau betina.)

"Is that his/her name?" (Kurang lebih jika diartikan dalam bahasa Albanian yaitu "Eshte emer djali apo vajze?")

"Her name, kurasa. Ga yakin juga dia cewek."

"Cute. Cek dong!"

"Takut dianya malu kalau aku lihat. Tapi kalau dia cowok, harus cepat-cepat kuganti namanya, kasihan."

"Iya."

"Story-mu, itu kucingmu?"

"Iya, cuma minggu depan mau ditinggal sebulan dulu. 

20

"Kasihan kucingmu, namanya siapa? memang ditinggal kemana?"

"Namanya Muezza. Aku mau ke Bandung! Ketemu yuk. Ohiya sebelumnya mohon maaf lahir dan batin yaaa, kan belum."

"Sama-sama Rot. Mohon maaf lahir batin juga untuk 4 lebaran kebelakang."

"Hahaha."

"Keren! Hey Muezza! Dia cowok?"

"Iya cowok."

"Di Bandung berapa lama Rot?"

"Sebulan."

21

"Yaaah, kurang lama!." Saat itu sedikit pasrah rasanya, maksudku, aku tidak berekspektasi apa-apa atas Rot, tapi tetap ada harapan kecil untuk bisa setidaknya lebih dekat dengannya.

"Aku harus kembali kerja, gabisa lama. Makanya harus ketemu yaa." (Rot bekerja di resort keluarganya di Manado, sebagai Divemaster, Photo Pro Assistant, dan Marketing.")

"Dengan senang hati."

"Aku nyampe di Bandung tanggal 18, mau langsung main dulu."

"Iya Rot. Banyak cafe di Bandung yang nunggu."

"Hahaa. Kamu bisanya kapan?"

"Jumat, Sabtu, Minggu. Oke?"

"Aku dateng Jumat kok. See u!"

"Baik Rot, See u!"

22

Disini pembicaraanku selesai, sebenarnya kuharap tidak, tapi sudah sangat senang mengingat Rot masih mau menemuiku. Rot sempat jadi punyaku empat tahun lalu, lalu harus pisah karena aku terlalu naif dan pengecut. Sebenarnya selama kurang lebih satu tahun kami berpacaran, benar-benar tidak pernah ada masalah yang terjadi, tapi kurasa itu masalah. Dalam sebuah hubungan, tetap perlu ada masalah, agar tidak hambar. Itu menurutku.

Jujur saja, Rot memiliki sifat super baik, aku tidak mengerti. Itu kenapa tidak heran jika benar-benar tidak ada masalah saat aku berpacaran dengannya. Perihal putus dengannya, aku tidak tahu pasti kenapa, lagi-lagi sahabatku berisik saat itu. Cemburu, tapi tidak mau membebani Rot sehingga aku tidak bilang. Lalu sahabatku bilang aku tidak pantas untuk Rot. Lalu hal-hal lainnya. Lalu aku hilang pergi, tanpa mengucap sepatah katapun. Pengecut memang. Tapi kamu harus mengerti, aku pergi bukan karena sudah tidak ada perasaan, tapi karena memang kurasa harus, agar Rot senang. 

23

Jika kau pikir aku egois, memang, aku setuju. Niatku berpacaran adalah untuk membuat orang yang ku suka senang, jika harus membebaninya dengan mengatakan aku cemburu, atau mengekangnya, lebih baik aku pergi. Dengan tahu bahwa Rot senang walau tidak denganku, itu sudah cukup. Edann jadi serius gini ya? maaffff. 

Ohiya, perihal mendekatinya itu sudah kurencanakan sebenarnya, entah akhirnya menjadi teman atau lebih. Niatku mendekatinya yaitu untuk meminta maaf karena sudah menghilang, dan memberi penjelasan, karena ku rasa dia butuh itu. Aku mulai mengikutinya Lewat Instagram, lalu dengan sengaja memasang story kucingku. Ku tahu dia menyukai kucing. Sehingga memasang story Nalu itu adalah sebuah pancingan, agar dia me-replay unggahanku, dan benar saja, seekor rusa cantik memakan buah yang sudah kupasang perangkap. Jeeeng jeeengg maaf Rot.

24

Hal ini ku ceritakan pada kawanku lewat pesan di WA, anggap saja namanya Kaos Kaki Brokoli. Panggil saja Koli. Koli adalah orang yang cukup cerdas, isi kepalanya seperti Perpustakaan Pusat yang bukunya tidak terlalu lengkap, karena hilang atau dipinjam dan tidak pernah dikembalikan. Dia juga menyenangkan, tidak terlalu serius, dan mau jika dimintai pertolongan walau harus ada upeti berupa uang atau minuman boba. Bocah.

"Woy jing." Jing disini bukan umpatan, maksudku adalah jingga, sebuah warna, terserah mau percaya atau tidak. Tapi ya masa percaya?

"Naon?" Naon adalah bahasa Sunda yang artinya "Apa?"

"Tebak!"

"Naon?"

25

"Liat." Ku perlihatkan Screenshot pesanku dengan Rot. Ku lakukan semata-mata untuk membalas ledekannya karena aku sempat jomblo.

"Halah, hati-hati, semu." Kurasa dia memberi peringatan agar tidak berharap lebih. Dan tenang saja, aku sudah siap soal semua kemungkinan. 

"Hahaha. Tenang." 

6. Mr. Tambourine Man

 Pagi itu tanggal 18 Juni, aku bangun, alhamdulillah. Berarti aku belum mati. Aku senang, ku rayakan dengan mendengar lagu Mr. Tambourine Man, dari Bob dylan. Bob Dylan adalah musisi Amerika yang lagu-lagunya beken di tahun 60-an. Lahir di St. Mary's Hospital on May 24, 1941, in Duluth, Minnesota, begitu kiranya kata Wikipedia. Pagi itu langit berwana abu-abu, bersiap untuk hujan. Hujan pagi hari di Bandung yang selalu menyenangkan.

Ku tidak menyiakan hal itu, aku bergegas pergi ke balkon untuk menghirup udara pagi. Ditemani Bob Dylan, dan rokok. Akan lebih menyenangkan jika ada Rot duduk disebelahku pada saat itu, untuk sekedar minum kopi atau teh bersama. 

Aku melihat tanaman stroberi yang terkena hujan. Ku petik, lalu ku makan. Awalnya mau ku jual, tapi tidak jadi karena sepertinya gak ada yang mau, karena cuma 3 buah.

26 

Lagu itu selesai, sama halnya dengan rokok ditanganku. Aku masuk kedalam untuk cuci muka, sikat gigi dan mencari sarapan di dapur. Orang tuaku sudah tidak ada dirumah semenjak 13 hari yang lalu. Mereka pergi ke Jawa setidaknya selama dua minggu, yang berarti besok akan pulang. Itu juga berarti aku masih sendiri dirumah. Rumah dititpkan kepadaku. Mereka pasti kaget dengan apa yang telahku lakukan dengan rumah ini. Baiklah, semoga beruntung ibu bapak Selai. 

Aku rasa yang butuh makan bukan hanya diriku, Nalu juga begitu. Ku beri dia makan basah dan susu karena kucing ini ga mandiri, ga bisa ambil makan sendiri. Kucingku juga ga bisa cari kerja, sehingga dirumahku untuk sekedar numpang hidup. Listrik dirumah dibayarin. Makan dibayarin. Air gratis. Ah dasar dia itu, seperti aku saja.

27

Seharusnya aku tidak sendiri dirumah, ada Selai Mentega yang disuruh jaga rumah oleh ibuku. Namun ku suruh dia untuk tidak kerumah dulu  hari itu, alasannya karena aku ingin ngepel, gaboleh ada yang injek dulu. Dia tau aku sedang bercanda, tapi dia juga mengerti kalau aku memang tidak mau dia ada dirumah dulu hari itu. 

Selai Mentega adalah pamanku yang umurnya beberapa bulan lebih muda dariku. Panggil dia dengan sebutan Ega. Dia bekerja di perusahaan ibuku, sama denganku. Dia baik, karena sering beliin makanan. Rajin shalat, menabung dan potong kuku. Dia juga sering meminjamkan uang ke aku. Ah pokoknya baik deh. 

28

Aku dirumah sebenarnya tidak tau mau melakukan apa, setidaknya sampai sore. Sore aku akan pergi ke Baltos, untuk membeli alat-alat lukis untuk usaha yang ku buat dengan kawanku, Es Dawet. Rencananya aku ditemani oleh Biji Kopi (Opi), Es Dawet (Awe) dan Ega. Ohiya, Baltos atau Balubur Townquare berdiri pada sekitar tahun 2016an mungkin? aku lupa, lebih pastinya bisa kamu cari lewat Google, karena saatku menulis ini sedang mati lampu dan tidak ada wifi untuk mencari tau. Setauku juga Baltos awalnya merupakan pasar tradisional, yang sekarang pasar tersebut digeser sedikit kebelakang Mall ini. Baltos, tidak seperti kebanyakan Mall di Bandung, tempat ini penuh dengan toko kain, ATK, baju, dan lain-lain.

Aku, Opi dan Awe berangkat langsung dari rumahku, menuju kantor di jalan Pesantren untuk menjemput Ega, lalu langsung pergi menuju Baltos. Jika kamu bertanya kenapa aku tidak masuk kerja, karena hari Jumat memang aku tidak ada tugas disana. Jadwalku hanya dari hari Senin sampai dengan Kamis, begitu. Sesampainya di Baltos kami langsung mencari alat lukis yang sesuai.

29

Setelah mendapat apa yang dimau, kami memutuskan untuk makan dulu. Semua biasa saja, perasaanku datar, tidak senang, tidak juga sedih. Kami makan di bagian atas, yang terbuka, menghadap langsung ke jembatan Pasupati. Menghirup udara mendung sore itu, membuatku nyaman. Aku selalu suka Bandung saat murung, saat langitnya berwarna abu-abu, dan jalanannya mulai basah oleh air hujan, menimbulkan bau khas yang sangat menyenangkan. Perasaan datarku mulai sedikit melambung oleh suasana Bandung saat itu.

Dalam hati, aku mengucap terima kasih sudah menciptakan Bandung, dan suasananya yang hebat. Walau aku tau Bandung tidak semanis Manchester waktu hujan, tapi tetap, Bandung berbeda bagiku, dan kurasa kamu akan setuju soal ini.

30

Itu mungkin karena aku lahir dan tumbuh di Bandung, mengenal banyak manusia baik disini, aku juga minum airnya (aku tau minumnya air galon, maksudku ayolah jangan complain sekarang, aku sedang mencoba romantis), aku juga bersenang-senang dengan kawanku di sini, merasakan romansa dan patah hati, makan seblak ceker, sedawa, semuanya di Bandung.

 Setiap sudut kota, coffee shop, warung, jalan, semua seperti memiliki memory cardnya sendiri. Sehingga akan selalu ingat sebuah moment setiap kembali kesana, yang muncul tanpa aba-aba namun menggembirakan. Seperti seseorang yang tiba-tiba mendobrak pintu rumahmu untuk memberi kado pie susu. Ya, semua orang suka pie susu, jika kamu tidak, mungkin ada yang salah denganmu.

31 

Ohiya, sampai mana tadi? Oh, sampai saat kami sedang makan di Baltos. Setelah makan, kami duduk-duduk dan ngobrol kesana kemari. Apa saja jadi pembahasan, asal menyenangkan dan tidak serius. Begitulah mereka, kawan-kawanku. 

Tidak lama, aku kaget, sebenarnya engga juga sih, pura-pura kaget aja. Aku dapet pesan dari Rot. 

Tertulis, "Hey! Aku udah di Bandung."

"Hey! Selamat datang di Bandung."

"Terima kasih."

"Bandung Zona merah, sudah denger?" Maksudnya, waktu itu di Bandung, angka Covid-19 sedang tinggi-tingginya. Aku berkata begitu dengan tujuan memberi tau bahwa coffee shop dan tempat-tempat lainnya ditutup serentak pukul 7, sehingga sulit dan berisiko jika harus bertemu di luar. Sekaligus juga merasa biru, karena mengetahui Rot tidak akan lama disini, sehingga kemungkinan aku bertemu dengannya menjadi lebih kecil. 

"Udah."

"Hari ini jadi pergi?"

"Iya, aku bantuin beres-beres di kafe temen."

"Eh? Ga capek?" Kali ini aku kaget, tapi bohong, aku pura-pura kaget lagi. Aku tau dia seperti apa, itu lah Rot, selalu punya energi extra dan riang.

 "Engga, seru kok!." 

32

"Iya rot. Tanggal 24 ketemu, ya?" 

"Iya, tapi malu." Aku tau dia tidak sungguh-sungguh saat bilang malu untuk bertemu.

"Kan pakai baju."

"Iya, tapi maksudnya aku bukan Rot 4 tahun lalu, aku menggendut." Aku lagi-lagi tau dia sedang tidak sungguh-sungguh, dia hanya sedang mengadakan tes mendadak kepadaku.

"Yaudah aku juga malu, biar malunya berdua, ku temenin."

"Aku juga lagi ngerasa jelek." Ya, tes masih berlangsung.

"Tenang, aku merasa jelek sejak lahir. Gak usah kamu ajak untuk temani kalau yang ini, aku sudah otomatis jelek!"

"Emang boleh ya? PPKM kan?", PPKM adalah akronim dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang ditetapkan pemerintah sejak 3 Juli, untuk mengatasi lonjakan Covid-19, kira-kira begitu menurut artikel.

33

"Harus boleh." Kataku, tidak bermaksud takabur, tapi jika iya, sudah terlanjur dikatakan. Aku juga harus mengatakan kalau aku mengajaknya pada tanggal 24 Juli itu untuk ke daerah Dago atas yang sepi, dan tidak turun dari mobil, sekedar melihat lampu kota Bandung dari atas di malam hari, makan ketan bakar, berbincang, minta maaf dan menjelaskan bahwa aku sudah pernah menghilang tanpa alasan jelas empat tahun lalu. 

Dan percakapan berhenti menggantung disitu. 

7. The Dark Knight Rises 

The dark knight rises, bangkitnya kesatria kegelapan, yang ku artikan dengan kepulangan ibuku. Ibuku bangkit dari kegelapan, untuk pulang dan mencari jiwa-jiwa bersalah untuk dia hakimi. Jelas, jiwa yang dimaksud disini adalah aku. Aku tau bahwa aku akan dihabisinya tanpa sisa, seperti saat Muhammad Ali menghabisi Sonny Liston. Kalah telak, diakhiri dengan Knockout. 

Aku melakukan beberapa kesalahan fatal. Kesalahan pertama adalah, aku dengan sadar mengadopsi Nalu, dimana menurut fatwa ibuku, haram hukumnya memiliki hewan di dalam rumahnya. Kesalahan kedua adalah, aku lupa kalau kucing itu bisa BAB, dan menceret. Yang ku ingat waktu itu kucing hanya butuh makan, dan susu, itu saja. Sial, kau tau? Aku mengadopsi Nalu benar-benar dengan persiapan yang 0, tanpa kandang, dan tanpa tempat BAB. Sehingga dalam kurang lebih seminggu, rumah disulap sebagai sarang mencret Nalu. Kenapa tidak kubersihkan? Kubersihkan, tapi tidak semua karena aku mencium baunya tapi tidak menemukan lokasi poopnya berada. Kesalah ketiga adalah tanaman mint milik ibuku mati karena aku lupa kalau dia gabisa jalan buat menyiram dirinya sendiri. Tiga kesalahan fatal itu cukup untuk membuatku diomeli seharian. 

Tiga hari berselang setelah kedatangan ibuku kerumah, kawanku, Awe datang kerumah untuk membuat lukisan di jaket, yang nantinya akan kami jual. Opi juga akan datang, untuk sekedar ngobrol ngerokok dan minjem asbaknya sekalian. Semua berjalan baik-baik saja sampai akhirnya ibuku pulang. Waktu itu maghrib seingatku, langit sudah mulai gelap, dan ibuku masuk rumah dengan kondisi yang agak tidak beres kurasa. Dia datang dengan batuk yang agak sering, dan tanpa banyak bicara langsung bergegas naik ke lantai atas. Sepertinya kawan-kawanku tidak menyadari ada yang aneh dari ibuku. Tidak lama dari itu aku dipanggil ke atas. Ibuku menyuruh ku untuk mengabari kawan-kawanku untuk segera pulang, karena kawatir dengan kondisi dirinya. Akhirnya, aku mengabari kawanku bahwa kondisi ibuku sedang tidak baik, takutnya terjadi apa-apa pada kawanku. Mereka mengerti dan langsung pulang. 

34

Kamu harus mengerti kondisi waktu itu di Bandung sedang tidak baik, angka Covid sedang tinggi-tingginya, terdengar kabar bahwa beberapa orang sudah terjangkit di lingkungan rumahku. Ibuku kawatir jika dia juga terjangkit, dan jika iya, dia tidak mau merugikan kawan-kawanku. Semakin malam, kondisi ibuku semakin buruk, demam, dan batuk yang tidak berhenti. Aku kawatir, begitu juga dengan ayahku. Malam itu juga kami, aku dan ayahku, memutuskan untuk mengungsi di lantai bawah. Membiarkan ibuku diatas untuk istirahat. 

Keesokan paginya, kondisi ibuku sudah sedikit membaik, dia memutuskan langsung melakukan test PCR, dan kau tau? terkadang mimpi buruk juga bisa benar-benar terwujud. Ibuku positif Covid. Tidak lama akupun merasakan gejala yang dialami ibuku, disusul dengan ayahku. Kami melakukan karantina mandiri selama 2 minggu. Bukan hanya keluargaku, 







 






 

      

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Habis Makan Terbitlah Ee

  Untuk Rot, diriku sendiri, dan semua orang yang yang kalau habis makan langsung ee. Bagi yang ga tau, ee adalah bahasa indonesia tidak bak...